Terima kasih sebab sudi terima kekurangan dan apa ada-nya saya. 

Advertisements

“Bawa saya pergi dari sini”

“Ha? Bawa kau pergi mana?”

“Bawa saya pergi, jauh dari tempat ini”. 

Ami lihat muka kaku Kalin. Dalam-dalam. Lalu Ami genggam tangan Kalin, kuat-kuat. 

“Ami, dalam dunia ini segalanya tentang kebatasan kan?. Tolong orang juga ada batas nya, berbakti pada negara pun harus ada batasnya bahkan baca buku agama lain juga ada batasnya”, keluh Kalin.

“Kalau hidup semuanya tentang limitasi, jadi kau sebenarnya telah memenjarakan diri kau demi menjaga kepentingan orang lain. Untuk apa kau hidup? Ada masalah aja pun kau ingin lari.” 
Kalin diam. Selama ini pun hidup Kalin terbatas, cuma lingkungan hidup nya aja pun sampai ibu-ayah, adik-adik sama kucing nya, Bobok. Buku-buku sastera sama radio cuma teman sampingan. 

Hidup – limitasi. Terlebih akal pun, apakah tidak ada yang ganggu-gugat? 

Susunan nya indah. 

Mula mula ketemu sama dia di sebuah konser. 

Sebulan selepas itu, nge-date. 

Dua bulan selepas itu, mulai serius.

Dua bulan selepas itu, ketemu sama kakaknya. 

Dua bulan selepas itu, datang ke rumah bertemu orang tua ku.

Bulan-bulan seterus nya lebih intim. Mula merancang itu ini. 

Tapi, ku kira semua menjadi indah mungkin juga berkat dan restu dari orang tua. 

Hati ini mudah nya merasa lapang, terasa lebih lancar kali ini tanpa halangan. 

Tuhan, kau telah kasi aku satu anugerah yang tak akan bisa aku sia-sia kan. 

Aku ini cuma anak-anak jalanan
tidak tahu memahami
tidak reti berbahsa-basi
tidak reti juga untuk menciptakan
jaring jaring impian

Aku ini cuma anak-anak jalanan;
ambien titis hujan kadangkala lebih menenangkan kontraksi lelah
kadangkala debu pasir asap kereta sudah lama sebati menjadi lapisan bedak di muka ku

Aku ini cuma anak-anak jalanan
langit teretak seribu pun masih tetap menjadi bumbung-ku
lantai berkerikil tajam pun masih ku gigih jejak

Izinkan aku mendampingi malamku
dengan titis embun yang jatuh lembut di pipi ku
dengan bunyi anjing berteriakan
ini lah bebasku, duniaku.